Kesetiaan dan Pengorbanan (bagian dua)

1496031265970

 

[Bagian dua: WANITA]

 

 

Yang kutahu dari dirimu

Setia itu takkan pernah ada

 

Dan dalam satu hal, kau benar

Pengorbananpun takkan sanggup membuatku bertahan

Karena yang kau cari, bukan aku yang ada dalam diriku

Namun egomu yang ada padaku

 

Jika setia itu bukan tentang kehadiranmu

Lalu mengapa kau harus ada dalam setiap cerita?

 

Jika setia itu bukan tentang waktu yang kau habiskan denganku

Lalu mengapa kau buang waktumu yang tersisa?

 

Setia itu bukan perihal raga yang menyatu

Atau rasa yang t’lah bersatu

Setia itu …

Menetapkan hati pada ketetapan abadi

Dengan hakikat yang paling hakiki

Kesetiaan dan Pengorbanan

1496031240670

[Bagian satu: PRIA]

 

Ku tatap lekat bayangan diri dari tiap keputusasaan

Tanya yang hadir, masih saja tentangmu

Sudahkah dirimu berpaling?

Jika mungkin yang kau rasa, tak akan lagi sama

 

Namun, dari tiap-tiap rasa itu

Adakah ragumu akan kesetiaan?

Jika sebuah pengorbanan pun

Takkan mampu membuatmu bertahan

 

Setia itu,

Bukan tentang kehadiranku disisimu

Bukan juga tentang berapa lama waktu,

yang kuhabiskan denganmu

 

Setia itu,

Saat aku menyebut namamu dalam doa

Tentang hadirnya dirimu dalam hidupku

yang membuat kita menjadi satu

 

Requested by My Bro: Gofur Hidayat

Sahabat Semu

Sahabat Semu

 

Aku bertanya,

tentang hati seorang sahabat

Tentang apa yang ia pikirkan

dan tentang apa yang ia rasakan

 

Aku bertanya,

tentang cinta seorang sahabat

Tentang apa yang ia berikan

dan tentang apa yang ia dapatkan

 

Aku bertanya,

tentang perasaan seorang sahabat

Tentang apa yang terlihat

dan tentang apa yang tak terlihat

 

Biarkan!

Biarkan saja…

Biarkan aku tetap bertanya dalam keterdiamanku

Biarkan aku berimajinasi dengan mimpiku

 

Hingga aku merasakan bahwa mimpi itu nyata

Dan kau tetap ada

Ya, Kau!

Sahabat semuku

 

Jember, 9 Agustus 2013

Tentang Ibu

Tentang Ibu

#Latepost  

Denpasar, 16 Maret 2017

 

Kau menangis haru saat pertama kalinya…

melihatku yang akan mengisi harimu sampai nanti

Sembari menghapus sakit yang kau rasa kala itu

 

Dengan perlahan kau bisikkan doa yang mengantarkanku pada keagungan-Nya

Memanjat puji syukur yang teramat pada Tuhan

 

Ibu…

Jika kutulis semua pengorbananmu

Berlembar-lembar pun takkan cukup menggambarkan

Dan tangan kecil ini takkan sanggup menuliskan

Karena yang kau berikan padaku lebih dari yang kuingin

 

Engkau tak pernah menyalahkanku Ibu..

Pada tiap kesalahan yang kuperbuat

Karena kau menutupnya dengan rapat..dari mereka

Mereka yang mencemooh tanpa tahu kenyataannya

 

Ibu…

Aku lelah dengan semua ini

Ingin kuceritakan yang terjadi setelah kau pergi

Bahwa kehidupan yang aku jalani

Tak seindah saat aku masih menjadi anak kecilmu..

Tentang Ayah

Tentang Ayah

Denpasar, 16 Maret 2017

 

Kau lantunkan suara adzan ditelingaku

Sembari mengucap syukur yang teramat pada-Nya

Kala itu aku hanya seorang bayi yang tidak tahu apa-apa

Yang bahkan belum sanggup untuk membuka mata

 

Kamu menimangku dengan gagah,

sambil berkata bahwa aku,

adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan padamu

Kalau saja aku mengerti,

Mungkin aku akan tersenyum lebar dan tersipu malu

 

Ayah….

Jika lelahmu terbayar dengan senyumku

Sedihmu terhapus oleh bahagiaku

Lalu kenapa kau pergi?

Kenapa tak kau biarkan aku merasakannya juga

Kesedihan.. dan lelah itu…

Lelah yang kau dapat saat kau cukupkan hidupku

 

Ayah…

Kau bilang bahagiamu melihatku masih disini

Tapi… bahagiaku bukan itu

Bahagiaku adalah bersamamu

Menjalani hidup yang mulai tak bersahabat lagi

 

Ayah..

Bisakah kau hadir sejenak dalam mimpi?

Banyak hal yang ingin aku ceritakan, padamu…

Tentang dunia yang mempermainkanku

Saat pertama kali aku kehilanganmu…

Hujan dan Rindu

Hujan dan Rindu

#Latepost
Denpasar, 12 Maret 2017

Aku merindukanmu…

dalam tiap rintik hujan yang tak pernah reda

Bagai alunan yang merasuk dalam jiwa

Terpatri indah tanpa suara

 

Aku merindukanmu…

dalam tiap doa yang terpanjat

Dalam kata yang tak sempat terucap

Lewat tetap penuh harap

Semoga kau rasa rindu yang teramat

 

Kau menenangkan…

Bagai hujan sebelum petang

Bagai senja yang akan hilang

saat malam menjadi tenang

 

Terkadang hujan membuat kita lupa

Bahwa tanah juga merindu padanya

Saling mendoa  untuk menghapus luka

 

Seperti kita…

Bertemu di titik yang sama

Untuk saling melepas tawa

Dan juga lara…

Ketidakpastian

Ketidakpastian

 

Denpasar, 11 Maret 2017

 

Ragu yang menjelma menjadi ketidakpastian

Antara apa yang aku rasa

Dan apa yang telah kau sadari

 

Jika yang terus mengusik adalah sebuah tanya tanpa jawab

Kenapa hati masih saja bertahan pada rasa itu?

Sebuah rasa yang kau percayai sebagai cinta

 

Namun, jika jawaban datang pada akhirnya

Mungkin… rasa itu telah pergi

Meninggalkan tanya yang ingin segera aku pastikan

Bahwa… tidak akan ada lagi,

Cinta yang lain…yang akan membuatmu berpaling

 

KAMIS GERIMIS

kamis gerimis

Denpasar, 9 Maret 2017

 

Kamis gerimis dalam kenangan

Saat dimana pertama kali kita bertemu

Dibawah sang surya yang bersembunyi di balik awan

Ada tawa kecil dalam seutas kebahagiaan

 

Aku masih disini…

Terdiam.. dirundung sepi hati

Meratapi kisah yang berlalu antara kita

Mencari celah dari tiap waktuku, untuk berlari sejenak

Berlari, meninggalkan rasa itu..

Dalam tiap rintik yang meluruhkan rindu

 

Kenapa harus ada pengharapan,

Jika doa yang terbalut luka..

Takkan sampai ke pemilik-Nya

 

Apakah rindu ini juga akan sama?

Jika yang kurasa pagi ini….masih tanpamu

Tanpa tawa dan juga lara

Tanpa haru dan juga gembira

 

A K H I R

blonde-boy-fashion-girl-Favim.com-1654430

Denpasar, 8 Maret 2017

Pagi ini tanpamu..

Tersisa kepingan ingatan kehadiranmu

Kau duduk dekat jendela menerawang

Jika kelak tak bersama,

Kenapa harus ada pertemuan?

Tanyamu kala itu

 

Aku berusaha mencari jawaban dari tanya yang sama

Mencari sebuah pembelaan

dari tiap kesalahan yang kau limpahkan pada Tuhan

 

Namun, aku tak menemukan jawaban..

yang akan mengubah kepercayaanmu pada-Nya

 

Kau berkata tak ingin berganti hanya demi cinta

Aku pun begitu

Mungkin… memang kita yang egois

Ingin bersama, namun tak ingin menyatu

 

Kau bilang, kenapa harus mempermasalahkan perbedaan

Jika itu yang menyatukan kita

 

Ini bukan tentang kita lagi…

Ini tentang aku dan Tuhanku

Kamu dan Tuhanmu…

 

Salahkah jika cinta itu hadir?

Tidak!

Aku percaya Tuhan amat adil

Mempertemukan kita adalah takdir-Nya

Dan memisahkan kita adalah akhir dari takdir itu…

Bahasa

Artinya saja aku tidak mengerti. Memangnya apa itu bahasa? Semacam benda kah? Atau sesuatu yang berasal dari perut bumi. Mungkin saja.
Menurutku bahasa tidak terlalu rumit. Hanya saja ada sedikit kendala disini. Oh, tidak. Bukan sedikit. Tetapi banyak. Dan banyak sekali.
Pertama, aku bukan pecinta sastra bahasa. Entah bahasa apapun itu. Kedua, aku tidak terlalu suka dengan bahasa, bahkan aku tidak tahu apa itu artinya. Dan ketiga, aku benar-benar tidak mengerti apa yang diinginkan ‘dia’, dari ku ini yang tak mengerti bahasa. Namun seolah-olah mengerti dan benar-benar memahami.
Ya! Aku bertindak sombong. Padahal aku sendiri sedang bingung mencari arti kata ‘bahasa’ yang selalu saja, digunakannya saat bertemu dengan ku.
Tidak. Bukan dengan ucapan. Namun dengan tatapan yang mampu membuatku mengerutkan kening seraya bertanya pada diri sendiri, ‘Memangnya ada yang salah dari ketidaktahuanku tentang bahasa? Bukankah, kasus seperti ini sering terjadi?’ Lagi-lagi pertanyaan tanpa jawaban.
Sebenarnya aku lelah. Bukan lelah dalam arti yang sesungguhnya. Ini hanya perumpamaan sebuah perasaan yang tak kunjung menemukan jawaban dari semua pertanyaan yang ku ajukan sendiri. Jangankan melangkah terlalu jauh—dengan mencari jawaban itu. Untuk bertanya pun rasanya aku tak sanggup lagi. Terlalu banyak pertanyaan yang seharusnya, dan sebaiknya aku tanyakan.
Namun yang aku tahu, satu hal yang membuatku tak yakin akan diriku sendiri adalah bagaimana caraku bertahan dalam keterdiaman semu untuk memahami definisi ‘bahasa’, dalam arti sesungguhnya.