Masih tentang ‘DIA’

Denpasar, 15 Agustus 2017

 

Andai kau tak sejauh angan

Mungkin ku tak peduli

Peduliku hanya saat hati t’lah berpaling

Bukan.. Bukan hatimu

Tapi hatiku

Hatiku yang pernah ada untukmu

Yang seakan lupa dimana pertama kali menjejak

 

Jika yang kau rasa kehilangan setelahnya

Itu tanda aku t;lah berhasil

Berhasil tak menetap pada satu tujuan yang runtuh karena luka

Dan membawa pergi semua rasa yang pernah ada

 

~Lebih dekat, sejengkal menjejak dari harap

Kesetiaan dan Pengorbanan

1496031240670

[Bagian satu: PRIA]

 

Ku tatap lekat bayangan diri dari tiap keputusasaan

Tanya yang hadir, masih saja tentangmu

Sudahkah dirimu berpaling?

Jika mungkin yang kau rasa, tak akan lagi sama

 

Namun, dari tiap-tiap rasa itu

Adakah ragumu akan kesetiaan?

Jika sebuah pengorbanan pun

Takkan mampu membuatmu bertahan

 

Setia itu,

Bukan tentang kehadiranku disisimu

Bukan juga tentang berapa lama waktu,

yang kuhabiskan denganmu

 

Setia itu,

Saat aku menyebut namamu dalam doa

Tentang hadirnya dirimu dalam hidupku

yang membuat kita menjadi satu

 

Requested by My Bro: Gofur Hidayat

Bahasa

Artinya saja aku tidak mengerti. Memangnya apa itu bahasa? Semacam benda kah? Atau sesuatu yang berasal dari perut bumi. Mungkin saja.
Menurutku bahasa tidak terlalu rumit. Hanya saja ada sedikit kendala disini. Oh, tidak. Bukan sedikit. Tetapi banyak. Dan banyak sekali.
Pertama, aku bukan pecinta sastra bahasa. Entah bahasa apapun itu. Kedua, aku tidak terlalu suka dengan bahasa, bahkan aku tidak tahu apa itu artinya. Dan ketiga, aku benar-benar tidak mengerti apa yang diinginkan ‘dia’, dari ku ini yang tak mengerti bahasa. Namun seolah-olah mengerti dan benar-benar memahami.
Ya! Aku bertindak sombong. Padahal aku sendiri sedang bingung mencari arti kata ‘bahasa’ yang selalu saja, digunakannya saat bertemu dengan ku.
Tidak. Bukan dengan ucapan. Namun dengan tatapan yang mampu membuatku mengerutkan kening seraya bertanya pada diri sendiri, ‘Memangnya ada yang salah dari ketidaktahuanku tentang bahasa? Bukankah, kasus seperti ini sering terjadi?’ Lagi-lagi pertanyaan tanpa jawaban.
Sebenarnya aku lelah. Bukan lelah dalam arti yang sesungguhnya. Ini hanya perumpamaan sebuah perasaan yang tak kunjung menemukan jawaban dari semua pertanyaan yang ku ajukan sendiri. Jangankan melangkah terlalu jauh—dengan mencari jawaban itu. Untuk bertanya pun rasanya aku tak sanggup lagi. Terlalu banyak pertanyaan yang seharusnya, dan sebaiknya aku tanyakan.
Namun yang aku tahu, satu hal yang membuatku tak yakin akan diriku sendiri adalah bagaimana caraku bertahan dalam keterdiaman semu untuk memahami definisi ‘bahasa’, dalam arti sesungguhnya.

Pertemuan Singkat

“Gila!!”  kata  Dita  sahabatku.

“Hanya  pertemuan  singkat,  tidak lebih. ”  aku mengelak.

“Tapi  kamu  senang,  kan?”

Tanpa  menjawab  pun  Dita  pasti  tahu  apa  yang  akan  ku  katakan.

Pukul  12.25

“Oh,  maaf.  Aku  tak sengaja. ”  ujar  cowok  itu.

“Iya,  tak  apa!”  Dia  membantuku  berdiri  dan  mengambil  beberapa  buku  yang berserakan.  “Terima  kasih”  ujarku  kemudian.

Cowok  itu  tersenyum  tipis.

“Maaf,  siapa  namamu?”  cowok  itu menatapku  lurus.

“Nadia”  aku  berusaha  bersikap  normal.

“Elang”  Dia  mengulurkan  tangan. Aku  membalasnya  dengan  pasti.

* * *

“Nad…  Itu!”  seru  Dita.

Aku  meletakkan  bukuku  dan  mengikuti  arah  pandangan  Dita.

Itu  Fika!!  Dengan  seorang  cowok.  Sepertinya  aku  kenal.

“Mereka  pacaran!”  seru  Dita  lagi.  Tapi  aku  tak  menghiraukannya.  Aku  masih  penasaran  dengan  cowok  itu.

Tiba-tiba  cowok  itu  berbalik  arah.  Tatapannya  beradu  dengan  mataku.  Sangat  lekat.

Aku  diam  tak  bergerak.  Darahku  berdesir.  Serasa  ada  yang  menekan  ‘pause’  dalam tubuhku.

Tatapan  itu….  Tidak  salah  lagi!  Dia  adalah ….ELANG…!!!