KAMIS GERIMIS

kamis gerimis

Denpasar, 9 Maret 2017

 

Kamis gerimis dalam kenangan

Saat dimana pertama kali kita bertemu

Dibawah sang surya yang bersembunyi di balik awan

Ada tawa kecil dalam seutas kebahagiaan

 

Aku masih disini…

Terdiam.. dirundung sepi hati

Meratapi kisah yang berlalu antara kita

Mencari celah dari tiap waktuku, untuk berlari sejenak

Berlari, meninggalkan rasa itu..

Dalam tiap rintik yang meluruhkan rindu

 

Kenapa harus ada pengharapan,

Jika doa yang terbalut luka..

Takkan sampai ke pemilik-Nya

 

Apakah rindu ini juga akan sama?

Jika yang kurasa pagi ini….masih tanpamu

Tanpa tawa dan juga lara

Tanpa haru dan juga gembira

 

A K H I R

blonde-boy-fashion-girl-Favim.com-1654430

Denpasar, 8 Maret 2017

Pagi ini tanpamu..

Tersisa kepingan ingatan kehadiranmu

Kau duduk dekat jendela menerawang

Jika kelak tak bersama,

Kenapa harus ada pertemuan?

Tanyamu kala itu

 

Aku berusaha mencari jawaban dari tanya yang sama

Mencari sebuah pembelaan

dari tiap kesalahan yang kau limpahkan pada Tuhan

 

Namun, aku tak menemukan jawaban..

yang akan mengubah kepercayaanmu pada-Nya

 

Kau berkata tak ingin berganti hanya demi cinta

Aku pun begitu

Mungkin… memang kita yang egois

Ingin bersama, namun tak ingin menyatu

 

Kau bilang, kenapa harus mempermasalahkan perbedaan

Jika itu yang menyatukan kita

 

Ini bukan tentang kita lagi…

Ini tentang aku dan Tuhanku

Kamu dan Tuhanmu…

 

Salahkah jika cinta itu hadir?

Tidak!

Aku percaya Tuhan amat adil

Mempertemukan kita adalah takdir-Nya

Dan memisahkan kita adalah akhir dari takdir itu…

Bahasa

Artinya saja aku tidak mengerti. Memangnya apa itu bahasa? Semacam benda kah? Atau sesuatu yang berasal dari perut bumi. Mungkin saja.
Menurutku bahasa tidak terlalu rumit. Hanya saja ada sedikit kendala disini. Oh, tidak. Bukan sedikit. Tetapi banyak. Dan banyak sekali.
Pertama, aku bukan pecinta sastra bahasa. Entah bahasa apapun itu. Kedua, aku tidak terlalu suka dengan bahasa, bahkan aku tidak tahu apa itu artinya. Dan ketiga, aku benar-benar tidak mengerti apa yang diinginkan ‘dia’, dari ku ini yang tak mengerti bahasa. Namun seolah-olah mengerti dan benar-benar memahami.
Ya! Aku bertindak sombong. Padahal aku sendiri sedang bingung mencari arti kata ‘bahasa’ yang selalu saja, digunakannya saat bertemu dengan ku.
Tidak. Bukan dengan ucapan. Namun dengan tatapan yang mampu membuatku mengerutkan kening seraya bertanya pada diri sendiri, ‘Memangnya ada yang salah dari ketidaktahuanku tentang bahasa? Bukankah, kasus seperti ini sering terjadi?’ Lagi-lagi pertanyaan tanpa jawaban.
Sebenarnya aku lelah. Bukan lelah dalam arti yang sesungguhnya. Ini hanya perumpamaan sebuah perasaan yang tak kunjung menemukan jawaban dari semua pertanyaan yang ku ajukan sendiri. Jangankan melangkah terlalu jauh—dengan mencari jawaban itu. Untuk bertanya pun rasanya aku tak sanggup lagi. Terlalu banyak pertanyaan yang seharusnya, dan sebaiknya aku tanyakan.
Namun yang aku tahu, satu hal yang membuatku tak yakin akan diriku sendiri adalah bagaimana caraku bertahan dalam keterdiaman semu untuk memahami definisi ‘bahasa’, dalam arti sesungguhnya.

Pertemuan Singkat

“Gila!!”  kata  Dita  sahabatku.

“Hanya  pertemuan  singkat,  tidak lebih. ”  aku mengelak.

“Tapi  kamu  senang,  kan?”

Tanpa  menjawab  pun  Dita  pasti  tahu  apa  yang  akan  ku  katakan.

Pukul  12.25

“Oh,  maaf.  Aku  tak sengaja. ”  ujar  cowok  itu.

“Iya,  tak  apa!”  Dia  membantuku  berdiri  dan  mengambil  beberapa  buku  yang berserakan.  “Terima  kasih”  ujarku  kemudian.

Cowok  itu  tersenyum  tipis.

“Maaf,  siapa  namamu?”  cowok  itu menatapku  lurus.

“Nadia”  aku  berusaha  bersikap  normal.

“Elang”  Dia  mengulurkan  tangan. Aku  membalasnya  dengan  pasti.

* * *

“Nad…  Itu!”  seru  Dita.

Aku  meletakkan  bukuku  dan  mengikuti  arah  pandangan  Dita.

Itu  Fika!!  Dengan  seorang  cowok.  Sepertinya  aku  kenal.

“Mereka  pacaran!”  seru  Dita  lagi.  Tapi  aku  tak  menghiraukannya.  Aku  masih  penasaran  dengan  cowok  itu.

Tiba-tiba  cowok  itu  berbalik  arah.  Tatapannya  beradu  dengan  mataku.  Sangat  lekat.

Aku  diam  tak  bergerak.  Darahku  berdesir.  Serasa  ada  yang  menekan  ‘pause’  dalam tubuhku.

Tatapan  itu….  Tidak  salah  lagi!  Dia  adalah ….ELANG…!!!